Kemenkominfo bersama Siberkreasi Menginspirasi Generasi Muda Indonesia Tentang Pentingnya Anti Jiplak Lewat Webinar “Giat Untuk Tidak Plagiat”

08 April 2021

GNLD Siberkreasi

Share to:

Hari Kamis pada tanggal 8 April 2021, Kemenkominfo bersama Siberkreasi mengadakan diskusi online pada Zoom meeting dan disiarkan melalui live streaming di Channel YouTube dan Facebook Siberkreasi dengan topik ‘Siberkreasi Hangout Online: Giat Untuk Tidak Plagiat’.
 
Diskusi online kali ini menghadirkan tiga narasumber dan dimoderatori oleh Annisa Virdianasari dan Aldo Kareem sebagai perwakilan dari Siberkreasi. Narasumber pertama, Zainuddin Muda Z. Monggilo seorang Dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Gadjah Mada. Narasumber kedua, Dr. Hj. Sri Ayu Astuti, S.H., M.Hum selaku Kepala Program Studi Pascasarjana Ilmu Hukum Univ. Pakuan Bogor. Narasumber ketiga, Wahyu Aditya selaku Founder dan Creative Director di HelloMotion Academy.
 
Webinar dibuka dengan pembahasan tentang kehidupan di era digital yang serba cepat dan lengkap, yang memudahkan setiap pengguna untuk mengakses referensi sebanyak mungkin. Kebebasan ini dapat menimbulkan kemungkinan untuk adanya pelanggaran hak cipta, plagiarisme dan pembajakan baik secara sengaja maupun tidak. Salah satu isu yang sedang marak adalah plagiarisme yang muncul sebagai suatu budaya dari kaum yang malas berpikir, dan melupakan arti dari perkembangan diri sendiri melalui proses, terlepas dari usia dan gender. Literasi digital yang tepat dapat menjadi solusi dari isu meresahkan yang dapat merugikan pencipta karya awal, sehingga dapat terbentuk ekosistem digital yang bersih dan sehat dengan mengikuti etika yang ada.
 
Pemaparan pertama oleh Zainuddin Muda Z. Monggilo sebagai akademika yang setuju bahwa plagiarisme berbahaya, baik secara akademis maupun secara personal. Diperlukan tingkat ketelitian yang tinggi dalam setiap proses pembuatan karya dengan cara selalu melampirkan sumber terkait dan untuk melakukan proofreading atau  membaca kembali agar terhindar dari jebakan plagiarisme, baik secara sengaja maupun tidak. Demi menjaga integritas setiap pembuat karya, pakem penulisan yang telah ada dan dapat dipelajari patut dipatuhi. Selain sebagai bentuk ketertiban diri, patuh terhadap pakem dipercayai dapat mengasah kemampuan berpikir kritis yang diperlukan setiap pembuat karya untuk tidak mengulang apa yang sudah ada pada referensi kepenulisan. Di era teknologi modern seperti sekarang, juga terdapat banyak situs dan aplikasi yang dapat membantu pengecekan karya tulisan agar terhindar dari plagiarisme.

Pemaparan kedua datang dari Dr. Hj. Sri Ayu Astuti, S.H., M.Hum yang menekankan bahwa regulasi dan kebijakan di Indonesia telah menganggap plagiarisme menjadi salah satu bentuk tindak pidana yang diklasifikasikan sebagai bentuk kejahatan intelektual melalui Undang-Undang yang sudah ditetapkan. Setiap perbuatan hukum dari seseorang wajib dipertanggungjawabkan melalui pemberian ganti rugi atas sikap ketidak warasan yang terjadi. Penegasan dalam perspektif Ilmu Hukum pun memegang teguh prinsip kehati-hatian dalam berperilaku yang wajib disertai pemikiran yang jelas, yang mewajibkan setiap pembuat karya untuk bersikap tertib dan disiplin. Salah satu cara yang harus dilakukan adalah untuk menggali potensi diri sendiri untuk tidak hidup dalam kemudahan dan meremehkan hasil karya orang lain yang dapat mendukung plagiarisme itu sendiri. Selain itu, kesadaran atas hukum dan pelanggaran etika wajib dimiliki setiap pribadi agar berperilaku sesuai adab, etika dan akhlak sebagai bentuk manusia yang berakal dan mahir berpikir kritis.

Pemaparan ketiga oleh Wahyu Aditya yang memberikan sudut pandang dari dunia kreatif di mana plagiarisme datang dalam dua sisi, yaitu positif dan negatif. Sisi positif dari plagiarisme berlaku dalam ranah pembelajaran, melatih keterampilan hingga sebagai bentuk penghormatan terhadap karya sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa di dunia kreatif, tidak ada pola atau gaya yang baru melainkan karya yang dihasilkan melewati proses penyegaran yang tidak merugikan. Sisi negatif dari plagiarisme datang di saat proses modifikasi dari referensi atau inspirasi tidak disertai batasan yang sesuai dengan etika, sehingga dapat menimbulkan terjadinya tindak pidana yang berbahaya bagi pencipta karya awal.

Pada akhirnya, ketiga narasumber setuju bahwa untuk melawan plagiarisme dibutuhkan kesadaran tinggi atas regulasi dan peraturan yang sudah ditetapkan, dan juga disiplin untuk berperilaku sesuai adab, etika dan akhlak sehingga terhindar dari jebakan plagiarisme yang membahayakan dan merugikan secara nilai ekonomi.

Webinar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab sampai dengan selesai acara.

Webinar selengkapnya dapat disimak di YouTube Siberkreasi pada tautan 
https://www.youtube.com/watch?v=TJlLBTK8--I
 
Informasi mengenai kegiatan webinar edukatif seputar generasi digital Siberkreasi berikutnya dapat dipantau di Instagram @siberkreasi.

ARTIKEL PILIHAN

Semarakkan Hari Anak Nasional 2021 melalui Kegiatan #AnakIndonesiaMakinCakapDigital


Selengkapnya
Kementerian Kominfo Bersama GNLD Siberkreasi dan Facebook Bekerja Sama Mengadakan Kelas Asah Digital


Selengkapnya
Tips dan Trik membuat Konten Sosial Media dari Raditya Dika


Selengkapnya
Nge-Zoom Bersama Nicholas Saputra: "Mengulik Sosial Media yang Penuh Privasi"


Selengkapnya
Komunitas Yang ada Di SIberkreasi

# A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
COPYRIGHT © 2020 SIBERKREASI.ID